Skip to main content
Foto: Robertus Risky/Project Arek
Cerita Mendalam
Siklus Cuaca Berubah, Kacaukan Usaha Warga
*Dampak Krisis Iklim Bagi UMKM Surabaya
Krisis iklim tidak hanya berdampak pada satu sektor. Cuaca yang semakin tak menentu turut menekan pelaku UMKM. Mereka menghadapi penurunan jumlah pengunjung, kenaikan harga bahan baku, dan lonjakan penggunaan listrik yang membebani biaya operasional.

MULYADI mengetokkan palunya ke lembaran aluminium untuk membentuk dandang. Suara ketukannya bersahutan, nyaring terdengar hingga puluhan meter. Di tempat kerjanya di Dupak Magersari, lelaki 49 tahun itu duduk di antara potongan-potongan aluminium dan tumpukan dandang yang telah rampung dibuat.

Pekerjaan itu telah ditekuninya sejak sebelum menikah, sekitar 1990-an, saat ia meneruskan usaha warisan keluarganya. Puluhan tahun menghabiskan waktu di ruang kerja yang sama membuat Mulyadi hafal setiap perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Termasuk perubahan cuaca yang belakangan dirasakannya.

"Cuacanya memang lebih panas sekarang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," ujar Mulyadi, Kamis siang, 4 Juni 2026.

BACA JUGA : Rayuan Pulau Palsu di Pesisir Surabaya (1)

Di ruang kerja yang dipenuhi material logam, panas matahari seolah terperangkap lalu memantul dari permukaan aluminium. Suhu yang meningkat memaksa para pembuat dandang ini mengeluarkan tenaga lebih besar untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

Bagi Mulyadi, panas bukan lagi sekadar rasa tidak nyaman, kondisi itu mulai memengaruhi kesehatan dan aktivitas sehari-harinya. Tubuhnya lebih cepat lelah, tenaga terkuras, dan keringat mengucur hampir tanpa henti selama bekerja.

Efeknya ke badan itu gampang capek. Karena panas, keringat keluar terus-menerus," tutur lelaki yang memiliki empat anak itu.

Dan kadang-kadang, kondisi tersebut membuat tubuhnya terasa meriang. Ia menggambarkan sensasi suhu badan yang tidak stabil akibat terpapar panas berlebih selama berjam-jam. "Rasanya meriang, suhu badan tidak enak, tenaga seperti hilang dan jadi malas karena terlalu lemas," jelasnya.

Mulyadi mengaku lebih sering muncul rasa lemas hingga membuat gerak tubuhnya tidak selincah biasanya. Untuk mengatasi kondisi tersebut, ia memilih beristirahat penuh selama sehari. Namun, tak kerja sehari itu sama artinya produksi dandang terganggu. Pendapatan pun berkurang.

Cuaca yang tidak menentu juga berpengaruh pada proses pengiriman, baik pengiriman dalam kota maupun luar kota. Situasi ini sangat mempengaruhi kondisi usaha kecil, seperti perajin dandang di Surabaya. (Robertus Risky/Project Arek)

Di tengah suhu yang membakar, kebutuhan air minum meningkat drastis. Mulyadi dan tiga pekerja lainnya harus memperbanyak konsumsi air putih agar tidak mengalami dehidrasi. Pengeluaran untuk yang satu ini terus naik dan tak mungkin ia kurangi karena sudah menjadi kebutuhan wajib.

"Satu galon air biasanya habis hanya dalam tiga hari untuk kami berempat," katanya. Pengalaman Mulyadi itu, menjadi gambaran dampak krisis iklim yang dirasakan warga di permukiman padat.

Selama seluruh pekerja hadir, mereka mampu memproduksi sekitar 15 dandang per hari. Produk tersebut dipasarkan ke sejumlah pusat perdagangan besar seperti Pusat Grosir Surabaya (PGS), Pasar Turi Lama, dan Dupak Grosir. Dandang ukuran 3 kilogram dijual sekitar Rp100 ribu, sedangkan ukuran 5 kilogram dipasarkan dengan harga sekitar Rp150 ribu.

Koordinator Arsitek Komunitas (Arkom) Jatim, Puspitaningtyas Sulistyowati mengatakan, sebagian besar warga mungkin belum memahami konsep krisis iklim secara teoritis. Namun, mereka merasakan langsung konsekuensinya dalam kehidupan sehari-hari.

Warga kebanyakan memang belum memahami krisis iklim secara utuh. Namun, mereka paham bahwa sekarang cuaca sudah tidak menentu. Mereka tidak bisa lagi memprediksi kapan musim hujan atau kemarau datang seperti dulu lagi," ujar Tyas, sapaan akrabnya, Sabtu, 6 Juni 2026.

Menurut Tyas, dampak yang paling mudah terlihat adalah meningkatnya tekanan ekonomi rumah tangga akibat kebutuhan listrik dan air yang semakin besar untuk menghadapi suhu panas.

Pada 22–23 Mei 2026, Arkom Jatim menggelar Focus Group Discussion (FGD) serta lokakarya co-design adaptasi panas di Rusun Sombo, Simokerto. Dijelaskan Tyas, kegiatan itu melibatkan warga untuk mengidentifikasi masalah dan merancang solusi menghadapi suhu panas yang meningkat.

Hasil diskusi menunjukkan 59,8 persen warga merasa hunian mereka panas, terutama akibat suhu tinggi pada siang hari dan kelembapan pada malam hari. Kondisi tersebut berdampak pada kesehatan, kenyamanan, biaya listrik, serta aktivitas belajar dan istirahat penghuni.

Sebagai respons, warga melakukan berbagai upaya, seperti menambah bukaan, memasang exhaust fan, dan memanfaatkan ruang teduh bersama. Melalui co-design, mereka juga merumuskan konsep hunian yang lebih sejuk dengan mengoptimalkan sirkulasi udara dan kenyamanan termal.

 

Perajin dandang seperti Mulyadi dan pekerjanya, setiap hari selalu berkutat dengan cuaca panas dan tubuh yang kotor. Ini membuat kebutuhan air semakin meningkat dan membuat tagihan PDAM semakin tinggi. (Robertus Risky/Project Arek)

 

Untuk menjaga sirkulasi udara, Mulyadi memasang dua kipas angin dan sebuah blower berukuran besar agar hawa panas tidak mengendap di dalam ruangan. Namun, dijelaskan Mulyadi, kenyamanan tambahan itu harus dibayar dengan biaya operasional yang lebih tinggi.

"Penggunaan listrik jadi lebih banyak karena kipas dan blower itu. Biaya listriknya bisa mencapai Rp500 ribu per bulan,” ujar lelaki dengan empat anak tersebut. Selain listrik, konsumsi air bersih juga meningkat. Panas yang semakin ekstrem membuat warga mandi lebih sering dibandingkan sebelumnya.

BACA JUGA : Rayuan Pulau Palsu di Pesisir Surabaya (2)

Pada kelompok usaha mikro, dampaknya terlihat dalam bentuk yang berbeda. Penjual es batu, Tyas memberi contoh, mendapatkan keuntungan dari meningkatnya permintaan saat cuaca panas. Namun, ada konsekuensi sosial yang harus mereka hadapi. "Pendapatan penjual es memang meningkat kalau panas, tapi privasi mereka jadi terganggu karena orang bisa datang membeli es batu sampai larut malam," ujar Tyas.

Sebaliknya, menurutnya, tidak semua pelaku usaha memperoleh keuntungan. Beberapa toko kelontong di kawasan Dupak Magersari justru mengalami penurunan jumlah pembeli karena warga enggan keluar rumah saat cuaca terlalu terik.

Menariknya, ada satu warung yang tetap ramai. Pemiliknya menyediakan kursi dan tempat berteduh di depan toko sehingga warga memilih berkumpul di sana untuk mencari angin dan menghindari panas yang terperangkap di dalam rumah.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, warga mengembangkan berbagai strategi adaptasi berbasis pengalaman sehari-hari. Tyas menyebut langkah-langkah tersebut sebagai bentuk pengetahuan lokal yang cukup canggih dalam konteks bertahan hidup.

"Mereka mencoba menyesuaikan diri secara mandiri. Contohnya, karena di dalam rumah sangat panas, warga memindahkan aktivitas memasak atau kegiatan lainnya ke luar unit atau luar rumah untuk mendapatkan embusan angin," tutur perempuan itu.

Dijelaskan Tyas, kawasan seperti Rusun Sombo dan Dupak Magersari menghadapi fenomena Urban Heat Island (UHI) atau pulau panas perkotaan. Suhu di wilayah ini dapat mencapai 2-4 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya yang memiliki vegetasi lebih banyak.

(Gambar: Peta Kerentanan Urban Heat Island (UHI) Dupak Magersari RT1. Sumber: PWK Unesa dan Arkom Jartim)

Pada Laporan Fakta dan Analisis PWK Unesa tahun 2025 di Dupak Magersari menjelaskan, peta kerentanan UHI tersebut tidak hanya menunjukkan rumah yang paling terdampak panas, tetapi juga menggambarkan gabungan faktor fisik, sosial, ekonomi, dan perilaku yang memengaruhi kemampuan setiap rumah tangga menghadapi suhu ekstrem.

Berdasarkan data AccuWeather pada Selasa, 9 Juni 2026 pukul 11.00 WIB di Surabaya, suhu udara tercatat 33 derajat Celsius. Namun, fitur RealFeel menunjukkan suhu yang dirasakan mencapai 39 derajat Celsius setelah memperhitungkan kelembapan udara, intensitas radiasi matahari, kecepatan angin, dan faktor lingkungan lainnya.

Sementara itu, RealFeel Shade atau suhu yang dirasakan di tempat teduh tercatat 34 derajat Celsius. Selisih antara suhu terukur dan suhu yang dirasakan menunjukkan lingkungan perkotaan menyimpan serta memantulkan panas secara signifikan. Kondisi ini sejalan dengan karakteristik fenomena UHI, ketika kawasan terbangun terasa lebih panas dibandingkan suhu udara yang tercatat.

(Gambar: Data AccuWeather pada Selasa, 9 Juni 2026, pukul 11.00 WIB menunjukkan suhu udara di Surabaya 33 derajat Celsius. Namun, suhu yang dirasakan mencapai 39 derajat Celsius di bawah terik matahari dan 34 derajat Celsius di tempat teduh. Sumber: AccuWeather)

Menariknya, dijelaskan Mulyadi, justru musim hujan yang lebih sering mengganggu jalannya produksi. Saat hujan deras, jumlah produksi bisa menurun menjadi sekitar 10 dandang per hari. Barang yang telah selesai dibuat tidak bisa ditempatkan di luar ruangan karena keterbatasan lahan.

Akibatnya, ruang kerja menjadi semakin sempit dan menghambat aktivitas para pengrajin. Pengiriman ke pelanggan di luar Pulau Jawa kerap tertunda ketika cuaca buruk melanda. Belum lagi risiko pemadaman listrik. "Kalau hujan lebat, sering mati lampu. Padahal kerja kami pakai mesin dinamo, jadi kalau listrik mati, kerja juga berhenti," keluh Mulyadi.

Pelanggan Menurun, Harga Kopi Naik

Sindra Djauhari (38) mondar-mandir di antara pelanggan, memastikan setiap pesanan tersaji tepat waktu. Pengelola Warung Kopi Smeleh di Jalan Gubeng Kertajaya itu juga sibuk mengatur berbagai persiapan nonton bareng tim sepak bola kesayangannya.

Di tengah aktivitasnya melayani pelanggan, Sindra mengaku mulai merasakan dampak perubahan pola musim yang kian sulit diprediksi. Menurut dia, hujan dan panas kini datang tak menentu, berbeda dengan kondisi yang ia alami saat masih kecil.

BACA JUGA : Proyek SWL dan Ancaman Krisis Gizi

“Zaman dulu waktu saya kecil, musim itu jelas pembagiannya, enam bulan musim hujan dan enam bulan kemarau. Namun dalam dua-tiga tahun belakangan ini, musim hujan bisa terasa jauh lebih panjang, bahkan sampai delapan atau sembilan bulan," ungkapnya, Jumat 5 Juni 2026.

Sindra Djauhari mengakui krisis iklim yang memicu perubahan cuaca yang tak menentu, sangat berpengaruh pada usaha kedai kopi miliknya. Selain kunjungan pelanggan yang menurun, dampak lainnya adalah biaya operasional yang membengkak akibat penggunakan listrik untuk menghidupkan kipas angin. (Rangga Prasetya Aji Widodo/Project Arek)

Bagi warung kopinya yang mengusung konsep ruang terbuka, pergeseran musim ini menjadi pukulan. Ketika hujan turun dengan durasi yang lebih lama, minat pelanggan untuk berkunjung merosot tajam. Sindra menceritakan di salah satu cabangnya, Smeleh Hub di AJBS Home Centre, ia bahkan pernah mengalami hari tanpa satu pun pelanggan.

Saya bahkan pernah merasakan dari mulai buka sampai tutup tidak ada pelanggan sama sekali. Hal itu terjadi tiga sampai empat kali karena hujan memang sudah turun sejak kami buka sore hari," kenangnya.

Jika pada musim kemarau ia bisa dikunjungi sekitar 150 hingga 200 pelanggan per hari, angka itu terjun bebas menjadi hanya 30 sampai 40 orang saat musim penghujan tiba. "Kalau sore sudah hujan, apalagi sampai habis Maghrib, orang sudah malas keluar. Ya sudah, banyak-banyak bersalawat saja," tambahnya.

Namun, tantangan tidak hanya datang dari hujan saja. Angin kencang yang menyertai cuaca ekstrem belakangan ini juga menambah beban biaya operasional. Sindra mengaku harus melakukan beberapa kali renovasi pada tempat usahanya karena kerusakan yang disebabkan oleh terjangan angin.

Di sisi lain, beralih ke musim panas pun bukan tanpa masalah. Meskipun Sindra secara pribadi lebih menyukai cuaca panas karena lebih menguntungkan bagi bisnisnya, ia menjelaskan, panas yang berlebihan atau ekstrem tetap membawa dampak negatif.

"Jujur saya sebagai pelaku usaha lebih berharap panas, walaupun jangan sampai panas yang ekstrem banget. Karena kalau panas sekali pun, orang malas keluar rumah, dan itu pasti berefek ke penjualan," jelasnya.

Untuk mengakali suhu udara yang menyengat agar pelanggan tetap betah, Sindra memasang 6 (enam) kipas angin di warung kopinya. Masalah baru muncul, yakni durasi penggunaan yang hampir 24 jam membuat peralatan elektronik tersebut cepat rusak. Sindra mengungkapkan bahwa ia sering terjebak dalam dilema antara memperbaiki atau membeli baru.

Beban itu bukan dilihat dari tarif listriknya, tapi alatnya yang sering rusak karena hidup hampir sepanjang waktu. Biasanya harga servis dengan beli baru hampir sama, akhirnya kami pilih beli baru saja," tuturnya.

Kipas angin gantung umumnya dijual mulai sekitar Rp80 ribu hingga Rp900 ribu, tergantung merek, ukuran, dan fitur yang ditawarkan. Sementara itu, kipas angin dinding ada kisaran Rp200 ribu hingga Rp750 ribu. Adapun kipas angin berdiri umumnya dibanderol mulai Rp150 ribu hingga lebih dari Rp800 ribu.

Kipas angin menjadi solusi paling realistis untuk mendinginkan suhu ruangan. Kedai kopi kecil sangat terdampak musim panas yang berkepanjangan, terutama pada biaya operasional listrik dan air. Tak jarang, kipas angin ini beroperasi selama jam operasional kedai. (Rangga Prasetya Aji Widodo/Project Arek)

 

Selain itu, untuk menjaga kesegaran suasana, ia harus mengeluarkan biaya ekstra untuk penggunaan air. Ia kadang-kadang menyiram tanaman dan halaman warung kopinya pada waktu tertentu guna meredam hawa panas, meskipun ia sendiri tidak yakin seberapa besar efektivitasnya secara teknis.

"Saya kurang mengerti apakah ada efeknya menyiram halaman itu, cuma rasanya jadi lebih segar saja kalau dilihat," kata Sindra.

BACA JUGA : Krisis Iklim Dibayar Nyawa Pengemudi Ojol (1)

Dampak ketidakpastian cuaca ini ternyata merambah hingga ke urusan kesejahteraan pekerja. Sindra yang mempekerjakan lima orang staf menyadari bahwa perubahan cuaca yang drastis mempengaruhi kesehatan dan produktivitas mereka.

Sangat berdampak. Kalau musim hujan, anak-anak sering jatuh sakit. Kalau musim panas, ya wajar kalau mereka jadi cepat capek dan kurang produktif," akunya.

Kedai kopi dengan konsep luar ruang seperti Smeleh ini bukan tanpa risiko. Musim hujan yang panjang dan tak menentu, membuat jumlah kunjungan menurun drastis. Belum lagi hujan disertai kondisi ekstrem seperti angin kencang yang sering kali merusak bangunan kedai. (Rangga Prasetya Aji Widodo/Project Arek)

Di sisi lain, Arif A'abadia (29) pemilik kedai Kopi DasKopital mengaku, menanggung dampak krisis iklim yang mengancam rantai industri kopi, dari kebun hingga cangkir. Krisis iklim bukan lagi sekadar istilah ilmiah bagi Arif. Di Surabaya, ia merasakan perubahan suhu yang semakin menyengat dan pola cuaca yang sulit diprediksi.

Ketidakpastian ini berdampak langsung pada rantai pasok bahan baku utamanya, yakni biji kopi. Menurut pengamatannya selama 5 (lima) tahun terakhir, krisis iklim telah memicu kenaikan harga kopi yang signifikan akibat hasil panen yang tidak optimal.

Krisis iklim, seperti cuaca panas yang tidak menentu, berakibat pada harga kopi yang terus meningkat. Hasil panen tidak menghasilkan biji kopi ceri atau kopi merah yang sempurna, dan masa penjemurannya pun terganggu,” ujar Arif, Jumat 5 Juni 2026.

Hal ini menyebabkan berkurangnya pasokan (supply) di tengah permintaan (demand) yang tetap tinggi, terutama untuk jenis kopi Arabika, Liberica, dan Excelsa. Kenaikan harga bahan baku menjadi momok bagi pengusaha kopi seperti Arif. Sejak tahun 2024, ia mencatat kenaikan harga biji kopi terjadi hampir setiap enam bulan sekali.

Arif A'abadia (29) mengakui krisis iklim mengganggu pasokan kopi di kedainya. Dari pengalamannya membuka kedai, dampak krisis iklim mengancam rantai industri kopi, dari kebun hingga sampai ke cangkir pelanggan. Dampak itu bisa dalam bentuk harga yang semakin tinggi dan kualitas kopi. (Rangga Prasetya Aji Widodo/Project Arek)

Umumnya, harga naik di kisaran Rp5 ribu per kilogram dan jarang sekali mengalami penurunan. Krisis iklim juga membawa duka bagi para petani kopi di daerah penghasil besar seperti Bener Meriah, Aceh. Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang dipicu cuaca ekstrem memaksa petani menjual kopi dengan harga sangat murah karena kualitas yang menurun drastis.

Kami yang biasa memesan biji kopi hijau (green beans) merasakan dampaknya, selain duka cita, kami juga mendapati kualitas kopi yang menurun,” tambahnya.

Pengalaman Arif sebagai mantan penjual kopi jalanan memberinya perspektif mendalam tentang betapa rentannya bisnis mikro terhadap cuaca ekstrem. Saat masih menggunakan motor untuk berjualan di sekitar Taman Mayangkara, hujan menjadi musuh utama yang bisa memangkas pendapatan hingga nol rupiah.

"Kendala paling utama di street coffee itu hujan, apalagi kalau hujannya ekstrem. Jika sejak sore atau waktu berangkat jualan sudah hujan lebat, terpaksa kami tidak jualan sama sekali karena tempatnya terbuka dan hanya mengandalkan payung kecil di motor," kenang Arif.

Pada hari cerah di akhir pekan, ia bisa melayani hingga 30 pelanggan, namun saat hujan turun, jumlah itu merosot tajam. Kini, meski sudah memiliki kedai fisik di Daskopital, dampak cuaca tetap terasa.

Saat musim panas ekstrem, pengunjung cenderung meningkat hingga 15 orang per hari, dengan preferensi minuman dingin yang dominan. Namun, ketika hujan badai melanda Surabaya, jumlah pengunjung bisa turun drastis hingga hanya tersisa 2 orang saja.

Arif menunjukkan kopi yang menjadi bahan baku utama kedainya. Ia mengatakan, contoh dampak krisis iklim dari hulu ke hilir bisa dilihat dari kedai kopi. Bencana di lokasi kebun kopi akibat rusaknya lingkungan, juga memicu pasokan dan harga kopi di tingkat kedai. Belum lagi hujan tak menentu membuat kunjungan semakin sedikit. Lebih-lebih ketika musim panas, konsumsi listrik jauh lebih tinggi karena harus menghidupkan kipas angin. (Rangga Prasetya Aji Widodo/Project Arek)

Untuk menyiasati biaya produksi yang terus membengkak, Arif memilih membeli biji kopi hijau langsung dari marketplace atau petani, lalu menyangrainya sendiri menggunakan jasa roasting. Langkah ini terbukti mampu memangkas biaya produksi secara signifikan dibandingkan membeli kopi yang sudah disangrai.

Arif juga menyoroti masalah jangka panjang di perkebunan. Kopi Arabika yang idealnya ditanam di ketinggian 900 hingga 1.500 mdpl kini mulai terancam karena suhu di pegunungan yang semakin panas. Meski ada solusi untuk menanam di lokasi yang lebih tinggi, hal itu memerlukan waktu dan adaptasi yang tidak sebentar.

BACA JUGA : Krisis Iklim Dibayar Nyawa Pengemudi Ojol (2)

Soal dampak krisis iklim terhadap petani kopi pernah ditulis oleh Mongabay Indonesia berjudul Bagaimana Nasib Kopi di Tengah Krisis Iklim? karya Irfan Maulana pada 2025, yang membahas ancaman krisis iklim terhadap sektor kopi di Indonesia. Cuaca ekstrem mengganggu proses pembungaan dan ketersediaan air, sehingga menurunkan kualitas serta bobot buah kopi. Kondisi tersebut membuat produktivitas kopi nasional tertinggal jauh dibandingkan Brasil dan Vietnam.

Sialnya Perpustakaan Juga Terdampak

Julianah, staf keuangan di C2O Library & Collabtive, berdiri di lorong di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi. Ribuan judul mengapitnya dari dua sisi. Lampu-lampu perpustakaan menggantung di atas kepala, menerangi deretan buku yang tersusun rapat memenuhi ruangan.

Siang itu, ia bercerita tentang perubahan suhu yang semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, cuaca panas kini datang lebih sering dan lebih menyengat dibanding sebelumnya. Perubahan tersebut tak hanya memengaruhi kenyamanan selama bekerja, tetapi juga sedikit banyak berdampak pada produktivitas sehari-hari.

Dalam beberapa tahun terakhir, suhu ruang kerja di Surabaya ini memang terasa semakin panas. Apalagi kalau sudah masuk musim antara bulan Agustus sampai November, itu panas sekali. Kami kalau kerja di C2O itu sudah berasa seperti di ruang sauna," ujar Julianah, Selasa 2 Juni 2026.

Ada anomali menarik antara data cuaca resmi dengan apa yang dirasakan oleh tubuh manusia di lapangan. Berdasarkan pengamatan Julianah melalui tangkapan layar ponselnya, suhu udara biasanya menunjukkan angka sekitar 32-33 derajat Celsius. Namun, suhu yang dirasakan (feels like) jauh lebih tinggi dari itu.

"Kalau di ponsel itu sekitar 33 derajat Celsius, tapi kalau dirasakan langsung itu benar-benar panas. Teman-teman sering berbagi cerita kalau rasanya itu seperti 36-37 derajat Celsius. Yang jelas, kami kalau kerja itu keringatnya bercucuran," tuturnya.

Julianah, staf keuangan di C2O Library & Collabtive. (Rangga Prasetya Aji Widodo/Project Arek)

Yang dirasakan Julianah ini, seperti yang telah dibahas di atas melalui AccuWeather dan fenomena UHI. Di mana suhu yang terasa lebih panas dari suhu yang tercatat. Kondisi ini semakin kontras karena C2O memegang teguh kebijakan minim listrik. Berbeda dengan perkantoran modern atau kafe di Surabaya yang umumnya mengandalkan pendingin ruangan (AC) secara penuh, C2O justru membatasi penggunaannya demi alasan lingkungan.

Visi dan misi C2O dari dulu adalah minim penggunaan listrik untuk menghemat energi dan mengurangi dampak lingkungan. Jadi di ruang perpustakaan dan coworking space, kami tidak menggunakan AC, melainkan hanya kipas angin," jelas Julianah.

Akibat kebijakan ini, tak jarang pengunjung yang datang langsung berbalik arah begitu mengetahui ruangan tidak ber-AC. Meski berupaya membatasi AC, suhu ekstrem tetap memaksa pengelola mengeluarkan biaya operasional yang lebih tinggi.

Pendingin udara atau AC di C2O Library & Collabtive hanya digunakan untuk acara tertentu yang membutuhkan ruangan tertutup. Selebihnya, mereka memanfaatkan kipas angin sebagai sarana menghalau udara panas. (Rangga Prasetya Aji Widodo)

 

Saat ini, C2O memiliki pengunjung harian sekitar 30 orang, yang mana C2O perlu mengoperasikan setidaknya lebih dari 15 kipas angin yang tersebar di berbagai ruangan untuk menjaga sirkulasi udara agar tetap tertahankan. “Peningkatannya mungkin sekitar 10 persen. Biasanya iuran bulanan normal di angka Rp700 ribu, sekarang bisa menjadi Rp1 juta ke atas," ungkapnya.

Peningkatan ini terutama dipicu oleh penggunaan kipas angin yang kini menyala terus-menerus tanpa henti karena suhu yang terlalu menyengat. Selain listrik, konsumsi air minum juga melonjak. Rasa haus yang tak tertahankan akibat suhu panas membuat stok air galon cepat habis. "Konsumsi air juga meningkat karena kita minumnya jadi lebih kencang. Dalam satu minggu, kami bisa menghabiskan 7 sampai 9 galon air," kata Julianah.

Namun, tantangan terbesar bukan hanya soal uang, melainkan kesehatan para staf. Penggunaan kipas angin secara intensif ternyata membawa efek samping yang paradoks.

"Kipas angin itu harus di depan muka supaya terasa dingin, tapi efeknya kami jadi sering masuk angin. Akhirnya ada pengeluaran tambahan untuk beli obat herbal atau jamu tolak angin," akunya.

Jika datang ke Perpustakaan C2O, kita akan melihat tempat ini memiliki banyak jendela yang sengaja dibuka untuk mendukung kelancaran sirkulasi udara. Menurut Julianah, bangunan tersebut dirancang dengan banyak ventilasi yang sangat terbuka, yang berperan penting dalam membantu pergerakan udara di dalam ruangan.

Bangunan C2O Library & Collabtive merupakan rumah era kolonial yang memiliki banyak pintu dan jendela besar. Ventilasi ini membuat pengelola sedikit bernapas lega lantaran sirkulasi udara lebih baik sehingga menekan penggunaan listrik untuk kipas angin. (Rangga Praserya Aji Widodo/Project Arek)

Penyediaan ventilasi ini merupakan bagian dari visi dan misi C2O untuk meminimalkan penggunaan listrik sekaligus mengurangi dampak lingkungan di tengah suhu Surabaya yang kian ekstrem.

Pendekatan tersebut bukan tanpa dasar. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sistem ventilasi alami dapat membantu menekan suhu di dalam bangunan tanpa bergantung sepenuhnya pada pendingin ruangan. Salah satunya adalah penelitian berjudul Keongan Atap: Model Ventilasi Atap pada Hunian Kampung Kota di Kampung Pendrikan Semarang yang ditulis Sukawi dkk. dan diterbitkan dalam Prosiding SNST ke-7 Tahun 2016 di Semarang.

Penelitian itu mengulas peran krusial ventilasi pada "keongan atap" (gable) dalam mengurangi panas di rumah-rumah kampung yang padat penduduk. Itu berfungsi mengalirkan udara panas yang terjebak di bawah atap keluar bangunan, memanfaatkan prinsip stack effect. Hasil penelitian menunjukkan, ventilasi atap efektif menurunkan suhu udara di bawah atap sebesar 0,6-1,2°C.

Meski demikian, meningkatnya suhu udara dalam beberapa tahun terakhir tetap menghadirkan tantangan tersendiri. Di C2O, misalnya, panas yang semakin ekstrem tidak hanya memengaruhi kenyamanan ruang, tetapi juga mengubah pola kunjungan pengunjung.

Panas ini membuat pengunjung sepi di siang hari. Mereka biasanya baru datang sore hari, setelah jam lima sore, atau saat malam hari ketika udara sudah mulai turun suhunya," ujar Julianah.

Area coworking space di lantai atas yang biasanya ramai kini cenderung sepi pada siang hari. Pengunjung umumnya baru berdatangan ketika matahari mulai condong ke barat dan suhu ruangan terasa lebih bersahabat.


*Artikel ini merupakan bagian dari serial "Krisis Iklim", kolaborasi projectarek.id dan iklimkita.org, media yang dikelola oleh LaporIklim.